kata kakak saya, dahulu jika di kampus diadakan acara hiburan, meskipun mendatangkan band-band terkenal sekalipun, peminatnya terbilang sangat sedikit. mahasiswa lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang lain daripada menghabiskan waktu menyaksikan acara-acara tersebut.
tapi lihatlah sekarang, semakin sering diadakan acara musik di kampus, dan yang hadir juga cukup banyak. momen paling aktual adalah sebuah acara pentas seni yang diadakan sebuah himpunan mahasiswa beberapa waktu yang lalu.
mereka semua asyik berdendang, larut dalam kegembiraan, sementara ribuan orang lainnya meratapi nasibnya yang semakin menderita, semakin miskin karena harga kebutuhan hidup yang semakin meningkat sebagai imbas dari kenaikan harga bbm.
ironis, di waktu yang bersamaan, sekelompok mahasiswa, melakukan aksi, yang memprotes kenaikan harga bbm, tidak jauh dari lokasi acara yang sedang berlangsung. dengan teguh mereka memperjuangkan idealisme mereka yang menilai bahwa kebijakan menaikkan harga bbm pada saat ini merupakan hal yang kurang tepat. berapa jumlah mereka? dihitung dengan jari pun masih bersisa. bandingkan dengan jumlah mahasiswa yang hadir dalam acara musik tadi.
perubahan jargon ITS menjadi CAK, cerdas amanah kreatif, sepertinya memang hanya menjadi sebuah jargon saja. publikasi besar-besaran untuk sosialisasi jargon tersebut nampaknya sia-sia, lha wong implementasinya juga belum ada. di saat kondisi bangsa sedang terguncang, diawali dengan melambungnya harga minyak dunia, diikuti berbagai implikasinya, berimbas pada kenaikan harga-harga yang tentunya semakin menyengsarakan rakyat kebanyakan, lalu dimana letak amanah kita? di sebuah konser musik? hohow… peran dan fungsi mahasiswa, masih ingatkah kita? ingatkah kita bahwa selama kita kuliah, kita juga masih mendapat subsidi dari pemerintah yang sumbernya juga darimana lagi kalau bukan dari rakyat?
bukannya apa-apa, saya sendiri juga masih suka mendengarkan musik. tapi rasanya, bukan pada momentum yang pas untuk menyelenggarakan sebuah acara hiburan, di tengah kondisi yang membutuhkan keprihatinan, terutama kita sebagai mahasiswa (sebagai generasi penerus bangsa, katanya). penyelenggaraan acara seperti itu tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit, apalagi mendatangkan bintang tamu musisi papan atas. alangkah baiknya jika dialokasikan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.
oke, memang kita membutuhkan hiburan, tapi juga jangan lupakan, masih banyak orang yang bahkan untuk mendapatkan makan masih kesusahan. masihkah kita ingat pada mereka?
salut untuk rekan-rekan yang mau peduli dengan kondisi bangsa saat ini, yang masih berani untuk besuara, walaupun suara mereka mungkin tak lagi didengar, telah terkalahkan oleh suara dentuman musik yang membahana dan teriakan penontonnya yang larut dalam bahagia.
hajaarrrr…
bacok…….
kapan2 main ke its ah…
saya menyempatkan diri mampir ke depan bundaran untuk say hello ke anak2
IRONIS memang…
tapi BBM sudah naik
untuk diturunkan kembali sangat TIDAK MUNGKIN
namun saya percaya diturunkan BBM pun masih banyak yang tetap miskin
karena mereka memilih untuk miskin
*memihak kaum pekerja keras yg tidak larut dalam keadaan
iyah pemandangan yang jika mengikuti kata hati sebagai mahasiswa tidak tepat.
Perlu kita melakukan penyadaran itu, minimal dengan memberikan pencerahan kepada teman kita, dan teman kita ke temannya yang lain, dan yang lain. walau berat tapi effortnya bisa memberikan pencerahan tentang perlunya kita untuk peka terhadap negara kita.
Salut sama agung atas tulisannya
hidup sekali harus dinikmati bro…ojo serius2
Siiipp tulisane.. yo ngene rek arek ITS iku..
menanggapi komennya sangeh “…karena mereka memilih untuk miskin”
wah, saya yakin, gk ada orang yang milih miskin hidup di dunia ini, Kalo misalnya kita ditanya sama Tuhan waktu masih di akherat sono suruh milih miskin ato kaya, jelas banyak yang milih kaya, tul gk..
orang miskin itu pekerja keras loh, bukan pemalas. bayangkan, satu contoh misalnya, pemulung, habis subuh itu udah mulai kerja, pulangnya paling telat dari pegawai manapun, paling larut malem, besoknya kerja lagi. Sabtu-minggu, tetep kerja.. gitu tetep miskin, yang salah siapa coba?
mo kerja yang lain, gk punya keahlian, sekolah aja nggak.. biaya sekolah muuahal euy!
mo pake “jalan pintas”.. takut dosa, pasti dilihat sama Yang Di Atas.
“ikut mlm aja..” eh, baju bagus buat ngeyakinin orang aja gk punya, apalagi koneksi n modal duit..
“Ya usaha dong..” udah usaha bagaimana lagi.. udah banting tulang gitu.. mulai pagi sampai pagi lagi..
Jadi, sepertinya negeri kita salah urus deh..
sepertinya kudu nunggu Agung buat mimpin negeri ini.. tul nggak gung? ato kita “eksekusi” sekarang, mumpung namanya masih Indonesia, belum diganti yang lain.. :p
BeTe, msk td da konser lg d dkt lap. basket flexi, siang2 panas2,.
huff
Iy, g da org yg milih bwt jd org miskin, sepatu (sepakat dan setuju!)
Untuk jadi orang rata – rata aja qt harus kerja keras, pa lg untuk jd orang yg luar biasa!
Bahkan pemulung (kyk komen ms praja di atas) atau tukang bakso pun kerja keras..
ya ya ya….
ga hanya di ITS aja yg kayak gitu, di kampus mana aja sekarang juga seperti itu. Ga terkecuali kampus saya…
tulisanmu apik….
skali2 ajari koncomu ta….
hidup sekali harus bermanfaat bro…