akhir era sinetron indonesia?

pulang dari kampus, basah karena kehujanan. pasrah akan hasil ujian akhir semester hari pertama sore tadi, moga-moga hasilnya lumayan, tidak seperti kuisku yang dulu.
refreshing sejenak, nonton tipi. tiba-tiba muncul pikiran iseng ingin lihat, seperti apa sih sinetron-sinetron indonesia yang sudah sejak lama mendapat sumpah serapah dari banyak orang itu.
jadi singkat cerita, kuambil si tomer™, pencet sana pencet sini, ketemu salah satu channel yang kebetulan akan menayangkan sebuah sinetron. dilihat dari pemerannya, seorang artis cilik yang mulai beranjak dewasa, kelihatannya sinetron ini segmentasinya untuk remaja, apalagi kelihatan bahwa pemeran utamanya berperan sebagai seorang pelajar smp. okeh, jadi kesimpulan di kepala, ini sinetron remaja

mengamati alur cerita sinetron yang mulai mengalir, di awal-awal kelihatannya merupakan ulangan episode lampau, bahasa ngetopnya “episode sebelumnya”
belum apa-apa tiba-tiba seorang tokoh, yang kelihatannya berperan sebagai ibu dari tokoh utama, dengan entengnya menampar tokoh utama, plakk… tak lupa sebelumnya diawali dengan maki-makian. belum lagi cerita selanjutnya, yang menggambarkan konflik antara tokoh-tokohnya, yang dibarengi dengan perkataan yang cukup keras dan kasar.
cukup sudah, belum ada lima menit sudah kuraih si tomer™ kembali dan pindah ke channel lain yang menayangkan berita. gak kebayang deh, bagaimana kelanjutan sinetron tadi pada menit-menit selanjutnya.
flashback sejenak, saya jadi ingat awal menjamurnya sampah-sampah pertelevisian tersebut. kalo tidak salah sih diawali dengan sinetron “Tersanjung” yang fenomenal *muntah darah* itu, masih ingat kan?? betapa berbelit, menjijikkan, dan tidak jelas ceritanya. dan entah mengapa, hal seperti itu justru digemari di indonesia, sampai-sampai sinetron tersebut dibuat sekuelnya berkali-kali. dan mulai saat itu, tayangan televisi mulai dibanjiri oleh sinetron-sinetron tadi.
banyak hal sebenarnya yang membuat saya risih dengan menjamurnya sinetron-sinetron indonesia saat ini, mulai dari kualitas artis yang semakin mengenaskan. kita tahu sendiri bahwa artis yang lebih rupawan saat ini lebih laris di pasaran daripada yang memiliki kemampuan akting yang bagus. era rano karno, didi petet, dedy mizwar, dan kawan-kawan sudah berlalu, digantikan artis-artis berwajah indo dengan kualitas akting yang dipertanyakan.
selanjutnya masalah segmentasi pasar. kelihatannya sih, mayoritas sinetron yang beredar saat ini adalah sinetron remaja. namun, kalo memang sinetron tersebut dikatakan sebagai sinetron remaja, rasanya kok kurang tepat. kekerasan baik fisik, kata-kata, maupun mental sudah berlebihan, bahkan jauh melebihi film asing yang mengandung restriksi usia dewasa. menurut saya, dalam menciptakan konflik dalam suatu cerita, tidak harus diwujudkan dalam kekerasan fisik. perbedaan pemikiran saja sudah menciptakan konflik yang cukup menarik, tinggal bagaimana kreatifitas sang sutradara untuk meramu cerita. sudah bukan jamannya lagi menunjukkan perbedaan antara tokoh protagonis dan antagonis dengan main gampar.
dari alur cerita pun, sebenarnya kalo diurut-urut stereotipe sinetron indonesia mayoritas sama, berakhir dengan happy ending untuk tokoh utamanya yang protagonis, namun nilai positif “kebenaran selalu menang” rasanya tidak sebanding dengan berbagai kekerasan, kemunafikan, iri dengki, tipu daya, dan nilai-nilai negatif lainnya.
sudah? belum, masih banyak. cerita di sinetron kebanyakkan tidak rasional, tokoh-tokohnya digammbarkan sebagai orang yang sangat kaya, tinggal di rumah mewah dengan segala fasilitasnya, meninggalkan penikmat sinetron menjadi seorang pemimpi dan pemalas. belum lagi membanjirnya iklan pada saat penayangan, yang membangkitkan sifat konsumtif dan juga waktu penayangan yang mengganggu karena bersamaan dengan jam belajar.
pernah di waktu lain saya menyaksikan sebuah sinetron. tagline nya sih bagus, legenda indonesia yang dikemas ulang dengan setting yang modern, dan hasilnya sangat nggilani. cerita legenda indonesia kan selayaknya juga bisa dinikmati oleh anak-anak, tapi yang ada ceritanya jauh berubah. banyak skenario mengenai kelicikan, tipu daya, bahkan usaha untuk membunuh tokoh utama yang ditampilkan secara nyata, duh, mau jadi apa anak-anak kita di masa depan? tidak mustahil bahwa sinetron bisa memicu tindak kejahatan dan kekerasan (mungkin ndak ya??? 😀 )
okelah, tapi bagaimana dengan sinetron islami?
halah,,,, podo wae, sama saja… bahkan lebih parah, membawa-bawa nama agama tapi ceritanya sama sekali melenceng dari nilai-nilai agama, justru malah menyesatkan. bisa menciptakan pandangan yang negatif dan salah terhadap agama.
jadi ingat masa kecil saya. kalo nonton tipi paling pagi hari, nonton si komo, unyil, susan, menggampar (eh menggambar…hehehe… ) bersama pak tino sidin dan sejenisnya, kalo sore nonton acara musik anak-anak, malamnya belajar. belum ada namanya tersanjung, terpuji, terkutuk, dan kawan-kawan tadi. tak heran sekarang saya menjadi seorang yang ramah, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung *tertawa terguling-guling*. coba sekarang, pagi sudah ada infotainment, sorenya juga. malamnya sinetron. anak-anak zaman sekarang yang semakin disibukkan oleh kegiaan sekolah dan ekstrakurikuler yang semakin padat acapkalinya membutuhkan hiburan juga, ya lewat televisi tadi. karena acara yang dicari tidak ada, pelariannya ya ke sinetron dan infotaimen tadi.
saya jadi teringat lagi, waktu lebaran kemaren, ketemu sama keponakan-keponakan saya yang masih SD dan yang satunya masih balita, belum bersekolah. tak disangka suatu waktu dari mulut-mulut kecil mereka muncul perkataan yang kurang pantas diucapkan. dan kesimpulan yang diambil, hal ini tak lepas dari pengaruh sinetron, karena memang anak-anak tadi notabene gemar menyaksikan sinetron.
saya jadi merindukan masa awal-awal penayangan serial “si doel anak sekolahan”, serial yang cukup berkualitas dan belum (dan tidak akan pernah) tergantikan oleh sinetron yang ada saat ini. selain itu, ada juga berbagai serial yang di-produseri aktor senior dedy mizwar, yang kebanyakan ditayangkan saat bulan romadhon.. itulah contoh-contoh sinema yang berkualitas.
sekarang, apa yang bisa kita lakukan? menurut saya, lebih baik jauhkan diri saja dari sinetron-sinetron jelek tadi, terutama bagi anak-anak, termasuk para remaja, yang tingkat kedewasaan dan pemikirannya masih labil dan belum matang. dan bagi badan sensor, berlakukan juga sensor untuk tayangan-tayangan tadi, bukan hanya pada sisi kesusilaan, namun hal-hal yang berbau kekerasan yang berlebihan juga sudah selayaknya disensor. jika alasan kejar tayang menjadi dalih untuk tidak melewati tahapan sensor, ya jangan diberi izin tayang!!! gitu-aja-kok-repot!!!™ kalo tidak ya sudah, biarkan saja selamanya televisi kita diisi oleh tayangan bodoh itu, toh tayangan-tayangan tadi menguntungkan bagi produser karena menurut rating, sinetron tergolong genre tayangan yang paling digemari. tapi sampai kapan kita semua mau seperti ini? cukuplah satu dekade kebodohan ini berlangsung, jangan diteruskan lagi. sudah saatnya televisi kita diisi dengan tayangan-tayangan yang jauh lebih cerdas. untuk para produser, jangan berorientasi pada keuntungan belaka. pikirkan bagaimana peng.aruh tayangan produksi anda terhadap masyarakat
nah, trus buat saya apa dong? kalo saya sih, daripada nonton yang begituan di atas, mendingan nonton doraemon… hehehe…
jauh lebih menghibur dan lagipula tidak ada ceritanya “nobita merencanakan untuk membunuh giant dengan memberi giant minuman yang diberi racun”, hihihihihihi….
sinetron indonesia bangettt…
eh, ngomong-ngomong, pertanyaan saya pada judul belum terjawab. akhir era sinetron indonesia? coming soon

Iklan

7 Responses to “akhir era sinetron indonesia?”


  1. 1 Anang Januari 8, 2008 pukul 7:45 am

    hmmmm bosen liat sinetron terus

  2. 2 a! Januari 8, 2008 pukul 8:11 am

    mending nonton doraemon 😀

  3. 3 wishnuzaki Januari 9, 2008 pukul 5:01 am

    rating..oh..rating..
    apakah kita semua sudah diperbudak oleh rating?

  4. 4 conetux Januari 9, 2008 pukul 8:14 am

    sekalian aja jangan nonton tipi… 😉

  5. 5 bhagas Januari 9, 2008 pukul 1:54 pm

    ini sebenernya yg salah sapa y…?masyarakat atau emng si pembuat..?anehnya ko banyak masyarakat yg menggemari sinetron2 ini ya…

    sekedear nambah juga,kbnykn sinetron di Indonesia ini adalah jiplakan karya luar yang uda populer disana,ga sinetron ga pula acara2 games di Indonesia,mengambil ide dari luar…apakh kita ga bisa bkin y acara yg murni ide kita sendiri…?tunjukin dnk klo orang Indonesia itu kreatif..^^

  6. 6 krishna Januari 11, 2008 pukul 10:37 am

    yang salah adalah INDIA-INDIA KEPARAT itu!!!

  7. 7 a! Januari 11, 2008 pukul 3:51 pm

    @wishnuzaki
    yang salah budaknya :mrgreen:

    @conetux
    jangan, saya masih suka nonton doraemon 😉

    @bhagas
    ya sebatas itu kemampuan kita, kreatif untuk membajak

    @krishna
    salam dari keluarga punjab


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




About Me

 Subscribe to this blog

 Subscribe to my posts bundle


web presence

posts by rizkianto

↑ Grab Animator!

RSS Also written by rizkianto

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

archives


%d blogger menyukai ini: