nilai pun ikut dijual

dulu, sewaktu masih menempuh bangku sekolah, pernah ada pengajar yang dikenal lumayan “pelit” dalam memberikan nilai. setiap kali ujian nilai yang diperoleh mayoritas siswanya sangat “indah” dan bervariasi. cuma sayangnya rangenya dibawah 50 :P. namun anehnya hal ini tidak terjadi pada siswa yang mengambil les privat pada guru yang bersangkutan. nah, ini dia yang menjadi masalah. ternyata siswa yang mengambil les tersebut mendapat “treatment” plus. guru yang bersangkutan memberikan cara pengajaran yang jauh berbeda saat memberikan les privat serta memberikan “kisi-kisi” soal yang akan diujikan pada ujian
berikutnya yang ternyata soal “kisi-kisi” yang diberikan tadi sama persis, alias keluwar semuwa, bwahahahahaha…. *ditabok*

tentunya hal di atas tidak didapat dengan gratis, ada semacam ya…

<petik>kompensasi</petik> lah untuk jasa dan kisi-kisi itu tadi yang tentunya tidak gratis, mungkin setara dengan biaya kursus di LBB-LBB yang sedang menjamur saat ini, sekitar puluhan ribu untuk satu mata pelajaran. kursus tadi pun diikuti oleh siswa-siswa yang boleh dikatakan cukup berada. buat rakyat-rakyat jelata seperti saia, simpan saja lah uangnya buat beli pentol. bwahahahaha…. *dilempar pentol*

tanpa disadari, kita sebenarnya berhadapan dengan sebuah bentuk komersialisasi pendidikan. yang terjadi adalah nilai mata pelajaran secara tidak langsung dipertukarkan dengan sejumlah uang. dalam hal ini berlaku hukum rimba, seperti di hutan yang dipenuhi monyet, gorilla, beruk, bekantan, kambing, kucing, ayam ,cicak, halah… yang paling kuat adalah yang menang, dan disini kekuatan yang bicara adalah kekuatan uang.

pernah melihat ironi pada dunia pendidikan? di satu sisi, ada sekolah-sekolah swasta, sekolah-sekolah internasional atau sejenisnya, dengan pengajar yang ikutan diimpor, dengan fasilitas yang “wah” dengan biaya yang mencapai jutaan, bukan dalam hitungan tahun, tetapi bulan (alias jutaan tiap bulannya) sementara di lain pihak, sekolah di daerah pedalaman, eh.., ndak usah pedalaman deh, di jabotabek juga masih ada, yang kondisi gedungnya memprihatinkan, hampir rubuh, yang ruang kelasnya kurang, sehingga terpaksa belajar di luar ruangan, yang jumlah pengajarnya terbatas, dan berbagai keterbatasan lainnya. kasus lain,maraknya kasus ijazah palsu, jual-beli gelar, semakin melambungnya biaya pendidikan tinggi, dan lain-lainnya.

balik lagi ke masalah jual beli nilai les privat, mungkin sebagian dari anda pernah mengalami hal serupa di atas, atau mungkin justru malah anda sendiri yang ikut terlibat?atau mungkin malah saya yang terlibat? *lah, kok jadi saia…*
(tapi sebenarnya kalo ditelusuri lebih dalam, akar masalah ini bisa jadi adalah karena kurangnya tingkat kesejahteraan guru, yang menyebabkan para pengajar tersebut mencari usaha lain agar dapur mereka bisa tetap mengebul, ya ndak? bisa jadi…)

Iklan

0 Responses to “nilai pun ikut dijual”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




About Me

 Subscribe to this blog

 Subscribe to my posts bundle


web presence

posts by rizkianto

↑ Grab Animator!

RSS Also written by rizkianto

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

archives


%d blogger menyukai ini: